Gracela Bernadetha Daulay (NIM: 230902097)
Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
I. PENDAHULUAN
Kementerian Sosial RI Sentra "Bahagia" di Medan merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial yang bertugas menyelenggarakan pelayanan rehabilitasi sosial bagi multiservas atau berbagai klaster Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Salah satu penerima manfaat (PM) rentan yang ditangani adalah anak korban eksploitasi yang juga menyandang status sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Tantangan mendasar yang sering dihadapi oleh praktikan atau mahasiswa praktik pekerjaan sosial di lapangan ketika berinteraksi dengan anak dalam situasi traumatis ini adalah hambatan komunikasi. Saat praktikan mencoba menggali informasi lebih mendalam mengenai masa lalu, kronologi kejadian eksploitasi, ataupun kondisi medisnya, anak menunjukkan reaksi defensif berupa sikap tertutup, diam, hingga secara aktif menghindar dari percakapan.
Sikap diam dan menghindar ini merupakan respons psikologis yang sangat wajar sekaligus bentuk mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) anak untuk memproteksi dirinya dari retraumatitasi atau ingatan menyakitkan di masa lalu. Hal ini sejalan dengan prinsip utama etika pekerjaan sosial, di mana pekerja sosial atau praktikan dilarang keras memaksakan penggalian data (interogasi) yang berisiko merusak kenyamanan mental dan proses pemulihan psikis penerima manfaat. Pemaksaan komunikasi verbal hanya akan memperlebar jarak relasi sosial dan merusak kepercayaan yang sedang dibangun.
Oleh karena itu, dalam menangani hambatan tersebut, implementasi bimbingan motivasi dengan menerapkan Strengths-Based Perspective (Pendekatan Berbasis Kekuatan) yang dikembangkan oleh Dennis Saleebey menjadi instrumen intervensi yang sangat relevan. Pendekatan ini secara sadar mengalihkan fokus perhatian praktikan: dari yang semula berorientasi pada defisit, penyakit, label negatif (labeling), dan trauma masa lalu, bergeser penuh ke arah eksplorasi potensi, kekuatan intrinsik, bakat alamiah, harapan, serta kapasitas ketahanan (resilience) yang masih dimiliki anak. Melalui pendekatan ini, relasi pertolongan diubah dari bentuk formal-interogatif menjadi hubungan kolaboratif-partisipatif yang aman bagi anak.
II. PROFIL KLIEN DAN DINAMIKA RESPONS KOMUNIKASI
Penerima manfaat dalam intervensi ini adalah seorang anak perempuan berinisial J.A berusia 16 tahun, yang telah menjalani program rehabilitasi dan pengasuhan di residensial Sentra "Bahagia" Medan selama kurang lebih tiga tahun. Dari hasil pengamatan harian, wawancara informal, dan catatan sekunder dari Manajer Kasus (MK), ditemukan dinamika psikososial yang unik pada diri J.A. Karakteristik personal dan hambatan komunikasi verbal yang dialaminya dirangkum dalam tabel di bawah ini:
• Karakteristik Positif Keseharian: J.A sebenarnya adalah anak yang sangat ceria, aktif, pintar, pekerja keras, dan memiliki kepribadian yang ramah (welcome) sejak awal pertemuan. Ia sangat mudah diajak berkomunikasi mengenai topik-topik harian yang kasual dan menunjukkan tingkat kecerdasan kognitif yang baik.
• Respon Terhadap Topik Masa Lalu: Apabila praktikan mulai mengarahkan pembicaraan atau melontarkan pertanyaan yang menyenggol masa lalu, kronologi eksploitasi anak yang dialaminya pada usia 7 tahun, maupun status medisnya sebagai penyandang HIV/AIDS, J.A akan langsung menunjukkan penolakan emosional dengan cara diam, memutus kontak mata.
• Adaptasi : J.A telah menjalani rehabilitasi selama lebih dari 3 tahun di lingkungan Sentra, J.A sebenarnya telah berada pada tahapan berdamai dengan diri sendiri (self-acceptance) maka dari itu J.A tidak mau membahas hal yang berbau masalah lalu nya.
• Potensi dan Aspirasi Utama: J.A memiliki ambisi yang sangat kuat untuk mengejar masa depan dan memiliki bakat alamiah yang menonjol dalam bidang seni menggambar. Aspirasi terbesarnya adalah dapat bekerja secara profesional sebagai seorang desainer.
III. IMPLEMENTASI ENAM PROGRAM INTERVENSI STRATIFIKASI KREATIVITAS
1. Diskusi Penguatan Motivasi Intrinsik (Motivational Interviewing)
Praktikan menerapkan teknik wawancara motivasional (MI) yang dikembangkan oleh Miller & Rollnick melalui obrolan santai tanpa unsur paksaan. Sesi ini fokus menggali alasan internal J.A menyukai dunia menggambar serta memberikan afirmasi positif untuk menghilangkan rasa rendah diri (self-doubt) akibat status pendidikannya yang saat ini hanya menempuh jalur pendidikan nonformal paket c di Sentra Bahagia.
2. Edukasi Profesi melalui Media Visual (Menonton Animasi Desainer)
Guna memberikan stimulan kognitif mengenai profesi yang diimpikannya, praktikan memfasilitasi J.A untuk menonton video animasi edukatif mengenai seluk-beluk profesi perancang busana/desainer. Kegiatan ini memperluas wawasan J.A mengenai aspek teknis, bidang karier desain, dan menanamkan pemahaman bahwa menjadi desainer adalah proses belajar bertahap yang realistis bagi siapa saja.
3. Kegiatan Ekspresi Kreatif Melalui Aktivitas Mewarnai Gambar
Aktivitas ini dikemas dalam bentuk yang menyenangkan dan persuasif menggunakan media cetak desain komunikasi visual. Melalui kegiatan mewarnai ini, bakat alamiah J.A dalam memadukan warna dan kepekaan estetikanya tereksplorasi secara bebas. Aktivitas ini secara psikologis berhasil mengonstruksi identitas positif baru dalam diri klien sebagai seorang 'calon desainer berbakat', menjauhkan dirinya dari mentalitas korban (victim mentality).
4. Dream Job Activity: Pembuatan Curriculum Vitae (CV) Masa Depan
Untuk membangun mindset yang berorientasi pada target (goal-oriented mindset), J.A dipandu menyusun CV Masa Depan kreatif di komputer. Di dalam media visual tersebut, ia menempelkan gambar dan menuliskan target pencapaian konkret yang ingin diraih, seperti sekolah mode impian, keterampilan digital yang ingin dikuasai, serta proyek rancangan busana yang ingin diciptakan pasca keluar dari Sentra.
5. Pelatihan Fisik Bermain Basket Mingguan
Intervensi tidak hanya berpusat pada aspek motorik halus, melainkan juga stimulasi fisik dan motorik kasar melalui olahraga basket seminggu sekali. Aktivitas ini bertujuan menjaga kebugaran tubuh J.A sebagai penyandang HIV/AIDS agar sistem imun tetap prima, melatih kedisiplinan waktu harian, serta membangun ketangguhan mental pantang menyerah dan kemampuan kerja sama tim (teamwork) dalam dinamika kelompok residensial.
6. Pelatihan Kerajinan Tangan (Pembuatan Gelang Manik dan Bunga Kawat)
Program terakhir ini diarahkan untuk mengonversi ide abstrak J.A ke dalam bentuk produk fisik tiga dimensi (3D). Melalui pembuatan kerajinan gelang manik-manik dan bunga kawat bulu beludru, J.A mengasah kepekaan palet warna (color palette) dan detail estetika rumit. Keberhasilan membuat produk siap pakai ini mendongkrak rasa percaya diri (self-efficacy) dan memberikan kebanggaan atas karya kreatifnya sendiri.
IV. EVALUASI DAN REFLEKSI HASIL INTERVENSI
Penerapan Strengths-Based Perspective membuktikan adanya transformasi psikososial yang signifikan pada diri J.A. Evaluasi sebelum (before) dan setelah (after) intervensi menunjukkan hasil sebagai berikut:
• Motivasi dan Kedisiplinan Harian: Sebelum intervensi, motivasi J.A bersifat laten (terpendam) dan ia cenderung kurang disiplin dalam mengikuti jadwal kegiatan wajib di residensial. Setelah intervensi, ia bertransformasi menjadi individu yang sangat aktif, antusias, rajin merapikan kamar, makan tepat waktu, dan secara konsisten hadir penuh di setiap sesi kegiatan positif.
• Tingkat Keyakinan Diri (Self-Efficacy): Sebelumnya, J.A merasa ragu akan masa depannya karena menganggap cita-citanya tidak realistis akibat hambatan pendidikan Paket C. Pasca intervensi, keyakinan dirinya meningkat pesat ia mampu merumuskan tujuan jangka pendek, sangat optimis, dan bangga terhadap identitas dirinya sebagai calon desainer.
• Keterbukaan Komunikasi Sosial: Awalnya, J.A sangat menutup diri dari percakapan mendalam dan komunikasinya sangat minim. Kini, pola komunikasinya berkembang menjadi interaksi dua arah yang hangat dan terbuka. Meskipun ia tetap memegang batas tegas untuk tidak membahas trauma masa lalunya, ia menjadi sangat ekspresif dalam menceritakan harapan, ide kreatif, serta langkah nyata untuk menggapai masa depannya.
V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Hambatan komunikasi berupa sikap diam dan menghindar dari anak korban trauma masa lalu tidak boleh direspon oleh praktikan dengan pemaksaan interogasi. Melalui pengalihan fokus menggunakan Strengths-Based Perspective yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas kreatif, praktikan dapat membangun lingkungan terapeutik yang aman dan suportif. Intervensi berbasis kekuatan terbukti efektif menggeser mentalitas anak dari seorang korban (victim) menjadi seorang penyintas yang berdaya (survivor) yang fokus pada potensi masa depan.
Direkomendasikan bagi pihak pengelola Sentra "Bahagia" Medan untuk memakai instrumen bimbingan berbasis minat bakat dan pendekatan kekuatan ini sebagai bagian dari standar operasional prosedur (SOP) pendampingan psikososial anak. Kerjasama multipihak yang suportif dan aman sangat krusial guna menjaga keberlanjutan motivasi positif yang telah terbangun pada diri anak pasca-praktik selesai.
Identitas Penulis,
Nama : Gracela Bernadetha Daulay
Pekerjaan : Mahasiswa Fisipol USU
Alamat : Asrama Mahasiswa Putri USU

