Masa anak-anak seharusnya menjadi periode yang dipenuhi dengan kegiatan belajar, bermain, dan mengembangkan potensi diri. Namun, bagi sebagian anak, masa tersebut justru diwarnai dengan tanggung jawab besar yang seharusnya dipikul oleh orang dewasa. Mereka dikenal sebagai child caregiver atau anak yang berperan sebagai pengasuh bagi anggota keluarga yang sakit, disabilitas, atau membutuhkan perawatan khusus.
Fenomena child caregiver masih jarang menjadi perhatian dalam pembahasan kesejahteraan sosial di Indonesia. Padahal, kondisi ini dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap perkembangan fisik, psikologis, sosial, maupun pendidikan anak. Ketika seorang anak harus mengambil peran sebagai pengasuh utama di dalam keluarga, hak-hak dasarnya sebagai anak sering kali terabaikan.
Selama pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Sentra Bahagia Medan, penulis menemukan salah satu kasus yang menggambarkan kondisi tersebut. Seorang anak perempuan berusia 13 tahun harus mendampingi ibunya yang sedang menjalani pengobatan lupus. Tidak hanya itu, ia juga membantu merawat adiknya yang masih kecil dan mengurus berbagai kebutuhan sehari-hari keluarga. Di usia yang masih sangat muda, ia harus menjalankan tanggung jawab yang jauh melampaui tugas perkembangan anak seusianya.
Situasi yang dihadapi anak tersebut semakin berat karena ia hidup dalam lingkungan keluarga yang kurang kondusif. Kondisi kesehatan ibunya yang menurun membuat peran pengasuhan dalam keluarga menjadi tidak optimal. Sementara itu, pengalaman menghadapi kekerasan dalam rumah tangga turut menambah beban emosional yang harus ditanggung. Akibatnya, anak menjadi lebih pendiam, kurang percaya diri, dan harus meninggalkan sebagian aktivitas pendidikan maupun kehidupan sosial yang seharusnya menjadi bagian penting dalam masa tumbuh kembangnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang menjadi caregiver rentan mengalami tekanan emosional, kelelahan psikologis, kecemasan, keterbatasan hubungan sosial, hingga gangguan dalam pendidikan. Banyak dari mereka harus membagi waktu antara merawat anggota keluarga yang sakit dengan menjalankan aktivitas sekolah. Dalam kondisi tertentu, tidak sedikit anak yang terpaksa mengurangi bahkan menghentikan pendidikannya karena tuntutan pengasuhan yang terlalu besar.
Meskipun demikian, anak-anak yang berada dalam situasi tersebut sering kali menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Mereka belajar bertanggung jawab, memiliki empati yang tinggi, dan berusaha membantu keluarga dengan kemampuan yang dimiliki. Namun, ketangguhan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kebutuhan mereka akan perlindungan, pendidikan, dukungan emosional, dan lingkungan yang aman.
Pengalaman pendampingan di Sentra Bahagia Medan menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki peran yang sangat penting dalam membantu anak menghadapi situasi sulit. Lingkungan yang aman, kehadiran teman sebaya, pendampingan psikososial, serta dukungan dari pekerja sosial mampu membantu anak menjadi lebih terbuka, lebih percaya diri, dan kembali memiliki harapan terhadap masa depannya. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa intervensi sosial yang tepat dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan keberfungsian sosial anak.
Fenomena child caregiver seharusnya menjadi perhatian bersama. Pemerintah, lembaga sosial, sekolah, tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan masyarakat perlu lebih peka dalam mengidentifikasi anak-anak yang berada dalam situasi pengasuhan keluarga akibat penyakit kronis maupun kondisi kerentanan lainnya. Anak-anak tersebut membutuhkan perlindungan dan dukungan agar tetap dapat menjalani masa tumbuh kembang secara optimal.
Pada akhirnya, tidak ada anak yang seharusnya kehilangan masa kecilnya karena harus memikul beban yang terlalu berat. Ketika seorang anak terpaksa menjadi pengasuh bagi keluarganya, maka tanggung jawab masyarakat dan negara adalah memastikan bahwa hak-haknya sebagai anak tetap terpenuhi. Dengan demikian, mereka tidak hanya mampu bertahan menghadapi kesulitan hidup, tetapi juga memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik
Identitas Klien
Nama : Agnes Meisya Stevie Tamba
NIM : 230902087
Pekerjaan : Mahasiswa FISIP USU
Alamat : Tanjung Anom, Medan
